Jawaban : Mengapa dan Ada Apa dengan BPJS?

Masih ingatkah dengan artikel saya sebelumnya yang berjudul “Mengapa dan Ada Apa dengan BPJS?“. Waktu itu saya iseng menulis artikel tersebut karena banyaknya keluhan yang di lontarkan oleh teman-teman kerja yang menggunakan layanan BPJS kesehatan. Mereka menjadi anggota pelayanan BPJS akan tetapi pelayannan yang diberikan pihak BPJS tidak memuaskan dalam hal pelayannnya.

Sehingga membuat mereka curhat di sosial media, curhat melalui share antar teman dan sesama anggota pelayanan BJS Kesehatan lainnya. Saat menulis artikel tersebut, saya kirim ke saran BPJS di halaman situs resminya dengan diterima melalui email “saran@bpjs-kesehatan.go.id“. Pada pagi ini, saya mendapatkan email balasan yang isinya sebagai berikut :

Yth. Bapak Rodin Saputra,

Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan melalui website BPJS Kesehatan dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Menjawab pertanyaan Bapak, kami menginformasikan penjaminan BPJS Kesehatan sesuai indikasi medis dokter faskes primer (tidak atas pemintaan sendiri) dan menggunakan tarif yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Selama peserta sesuai hak kelas peserta dan prosedur yang berlaku, maka faskes tidak diperbolehkan meminta iur biaya kembali. Kami menyarankan agar peserta dapat melapor ke petugas MPKP atau unit pengaduan peserta di kantor cabang BPJS Kesehatan sesuai domisili faskes primer untuk diperoleh informasi yang menyeluruh dan dapat ditindaklanjuti.

Informasi lain juga dapat diperoleh dengan menghubungi Pusat Layanan Informasi 24 jam 500400 atau kantor cabang BPJS kesehatan setempat.

Demikian kami menginformasikan, semoga Bapak beserta keluarga selalu dalam keadaan sehat. Terima kasih telah mengunjungi website BPJS Kesehatan.

Salam,

BPJS Kesehatan

Tidak hanya membalas dengan kalimat tersebut, pihak BPJS juga menyertakan informasi mengenai kegunaan kartu kesehatan lainnya sebagai berikut :

Kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah tanda kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang komprehensif pada fasilitas kesehatan melalui mekanisme sistem rujukan berjenjang dan atas indikasi medis*.

KIS diterbitkan oleh BPJS Kesehatan untuk seluruh peserta jaminan kesehatan termasuk penerima bantuan iuran (PBI).

Kepesertaan KIS ada 2 kelompok:

  1. Kelompok masyarakat yang wajib mendaftar dan membayar iuran, baik membayar sendiri, ataupun berkontribusi bersama pemberi kerjanya;
  2. Kelompok masyarakat miskin dan tidak mampu yang didaftarkan oleh pemerintah dan iurannya dibayari oleh pemerintah

*) Kartu lainnya: Kartu Eks Askes, Eks Jamkesmas, KJS, Kartu JKN BPJS Kesehatan, masih tetap berlaku sesuai ketentuan sepanjang belum diganti dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Meskipun responnya terlalu lama, saya pribadi tetep menghargai jawaban dari pihak BPJS. Yah walaupun jawabannya juga tidak memuaskan, silahkan bagi para pembaca juga boleh menilai jawabannya. Saya hanya bisa berdoa, semoga kedepannya BPJS bisa lebih baik lagi dalam hal pelayanannya. Untuk pengguna BPJS yang merasa kurang puas dengan pelayanannya bisa langsung lapor / komplain.

Anda bisa komplain melalui email ataupun call langsung ke nomor yang tersedia. Anda juga bisa langsung mengunjungi website nya langsung, bila perlu langsung saja datang ke kantor cabang terdekat atau pusatnya. Salam sehat buat para keluarga pembaca artikel ini, semoga senantiasa diberikan kesehatan jasmani dan rohani. Karena kesehatan juga termasuk juga dalam rizki Tuhan yang tak lupa untuk disyukuri selalu.

 

Mengapa dan Ada Apa dengan BPJS?

bpjs?

Saya pribadi adalah peserta bpjs yang termasuk menerima upah dari sebuah perusahaan swasta. Saya pribadi awalnya bangga dan senang dengan hadirnya bpjs yang mampu membantu orang tidak mampu untuk menerima jaminan kesehatan dari pemerintah. Saya acungkan jempol untuk visi misi bpjs yang begitu bagus dan menjadi harapan yang baik untuk masyarakat luas di indonesia.

Manfaat yang diperoleh dari bpjs pun begitu bagus dan dapat menjanjikan, serta perawatan rawat inap sesuai dengan iuran yang dibayarkan oleh peserta. Akan tetapi memang benar adanya dengan peribahasa yang menyatakan “TIADA GADING YANG TAK RETAK”. Maksud dari peribahasa tersebut dalam pelayanan bpjs ini menurut saya ada yang perlu di evaluasi dan dibenahi jika ada kekeliruan ataupun tidak mencapai visi misi dan manfaat yang di tawarkan oleh bpjs.

Banyak cerita dari temen-temen saya melalui sosial media mengenai keluhan pelayanan bpjs yang buruk. Termasuk saya pun pernah mengalami dengan keterbatasan fasilitas kesehatan. Ada sebuah klinik yang membatasi peserta bpjs hanya diberi waktu 30 menit (pendaftaran dari jam 16:00 – 16:30 ) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan menggunakan bpjs. Menurut saya itu sangat mengecewakan bagi saya pribadi karena saya ikut bpjs pun membayar iuran.

Keluhan yang terbaru yang dialami oleh temen saya pada saat anakanya mengalami keluhan kencing yang tidak wajar. Air kencing anaknya berwarna kuning tua, kemudian si ibu anak memeriksakan ke klinik yang bekerjasama dengan bpsjs. Dokter memberi surat rujukan cek darah dan resep obat untuk ditebus sendiri ke apotek (baca : obat bayar sendiri). Setelah obat ditebus dan periksa darah, hasilnya tes darah dibaca dokter. Kata dokter hasilnya gejala types, kemudian dokter memberi resep obat lagi untuk ditebus ke apotek (baca : obat bayar sendiri)

Yang jadi pertanyaan saya, “MANFAAT BPJS NYA DIMANA?” Apa yang salah? visi misi bagus tapi kok pelayanan aktualnya begitu… manfaat yang ditawarkan pun bagus banget salah satunya memberikan obat. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Ada apa dengan Bpjs? Jika ada sistem yang salah semoga segera diperbaiki! Mungkin itu salah satu harapan dari kami sebagai peserta bpjs.