Saatnya Menjadi Suporter Sehat

suportApa bedanya fans dan suporter ya? Adakah yang tahu? kalau gada yang tahu, kita cari di mbah google aja.  Eng ing eng, akhirnya nemu juga apa itu arti fans dan suporter untuk memperjelas perbedaannya. Mari kita bahas bersama-sama secara gamblang agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita. Pengertian fans berarti mnyukai sesuatu dan secara antusias ingin memiliki, misal saya seorang fans Barcelona.

Maka saya akan berusaha untuk mengetahui semua tentang Barcelona. Saya mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan dengan Barcelona. Baik negara, sejarah, pemain, club, dan info lainnya saya berusaha mencari serta mendapatkannya. Atribut-atribut barcelona pun tak ketinggalan untuk dikoleksi secara pribadi. Lalu bagaimana dengan suporter…? Kata suporter sendiri diadopsi dari kata “supporter“. Kata aslinya “support” yang berarti dukungan, jika ditambahkan “-er” menjadi “supporter” yang berarti pendukung.

Lalu dimana letak perbedaannya antara fans dan suporter. Kalo dilihat dari katanya kita terjemahkan lagi sebagai berikut : misal fans sepak bola hanya akan merasa senag jika tim kesayangannya memenangkan sebuah pertandingan. Jika tim kesayangannya kalah maka dia akan kecewa dan tak tanggung tanggung akan menghina tim kesayangannya sendiri. Menyalahkan pemain, bahkan mungkin menyalahkan pelatihnya (apakah anda pernah mengalami hal seperti itu?). Boleh kecewa tetapi tak perlu sampai mengumpat pemain atau pelatih.

Suporter yang bener-bener suporter akan memberikan suportnya kepada tim kesayangannya dalam keadaan menang ataupun kalah. Dia akan rela hadir di stadion untuk mendukung tim kesayangannya. Dia akan menerima kemenangan dengan senang hati, tetapi dia juga bersedia tetep support meskipun tim yang didukung mendaptkan hasil yang terburuk. Tidak perlu mengumpat, kalau perlu malah akan mendoakan tim yang didukung agar bangkit dan tetep semangat.

Lalu apa yang dimaksud suporter sehat? tadi pagi saya merasa sedih, bukan karena tim kesayangan kalah tetapi karena melihat suporter yang ngamuk di solo dan di bandung. Pesan buat temen-temen di seluruh nusantara, yuk kita belajar menerima kemenangan dan kekalahan tim kesayangan kita dengan lapang dada. Kalau temen-temen bobotoh di bandung ribut karena saling ejek yang kemungkinan ada yang mabuk hingga tak terima dan terjadi baku hantam. Suporter sehat menurut hemat saya, kita mampu menjadi pendukung yang legowo dan jangan mudah tersinggung, hindari miras saat berada di ruang publik seperti stadion dengan harapan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Harapan penulis, nantinya kita mampu menempatkan posisi kita sebagaimana mestinya sebagai suporter yang sehat. Sae no Tawuran Sae No Miras, Suporter Sehat Yes.

Pelayanan Ala Bank

ilustrasi uang robek
ilustrasi uang robek

Selamat pagi pembaca setia Lukulo Media dimanapun anda berada yang saya hormati. Pagi ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengenai pelayanan yang diberikan oleh pihak bank kepada calon ataupun yang sudah menjadi nasabah bank. Jika anda adalah nasabah ataupun calon nasabah sebuah bank, sudah tetntu pernah menerima pelayanan yang prima dari pihak bank kepercayaan anda. Saya sendiri sudah sering mendapatkan pelayannan yang terbaik dari sebuah bank besar di Indonesia.

Pada dasarnya setiap bank memiliki cara tersendiri untuk melayani para nasabah ataupun calon nasabahnya. Semisal pada saat kita mendatangi kantor cabang bank tertentu, satpam akan membukakan pintu serambi mengucapkan salam selamat datang serta mendapatkan senyum lebar darinya. Setibanya di customer service kita akan disambut ramah oleh duty officer jikalau ada. Diberi petunjuk untuk mengambil no antrian jikalau akan menuju customer service. Jika no antrian sudah didapatkan tinggal menunggu giliran anda dipanggil.

Akan tetapi jika ada seorang cs yang sedang tidak sibuk, maka anda akan disapa dan ditanyakan keperluannya apa? (intinya pelayannanya cepat tanggap terhadap keperluan nasabah). Seperti saat saya mendapati uang robek saat pengambilan di mesin atm bank BCA. Saya mencoba untuk mengembalikan lagi melalui mesin setor tunai akan tetapi ditolak. Saya langsung bergegas ke customer service dan dilayani secara prima oleh petugasnya. Biarpun saya sedang mengantri tetapi cs bank tersebut insiatif untuk menyapa dan menanyakan keperluan saya.

Kurang lebih begini percakapannya :

cs : “Ada keperluan apa pak? ada yang bisa saya bantu pak?”

sy : “Ia mba, saya mengambil uang di mesin Atm tetapi uangnya robek.”

cs : “Dimana mengambilnya pak?”

sy : “Di mesin ATM yang berda di Alf*m*rt…”

cs : “Sekarang uangnya dibawa?”

sy : “Dibawa mba, ni (sambil menyerahkan uang yang robek)”

cs : “(uang diterima sambil dibawa ke teller) tunggu sebentar ya pak, uangnya saya tukarkan.

       Ini pak uangnya saya ganti, ada yang bisa saya bantu lagi?”

sy : “Ok. Terimaksih mba, cukup…”

Note :

           “Tantangan buat pegawai pemerintahan dibawah kepresidenan Bapak Jokowi-JK, mampukah melakukan pelayanan publik seperti pelayanan di bank? Ramah sopan, cepat tanggap dan memuaskan, Buat para pns yang bekerja di pemerintahan dan yang lansung melayani publik saya harap mampu meningkatkan kinerjanya seperti pelayanan di Bank.”

Solidaritas?

Solidaritas, sedikit tercengang saat bos saya tidak tahu pentingnya solidaritas antar sessama pekerja. Yang dihitung bos saya hanya untung dan rugi, seolah apapun yang kita perbuat harus ada dampak untungnya jangan sampai rugi. Lalu apa yang akan kita lakukan jika kita dituntut kebersamaan nya demi kepentingan bersama yang mengatasnamakan orang lain. Apakah solidaritas harus ditinggalkan karena tidak ada untungnya yang langsung terjadi pada pribadi kita.

Saya peduli terhadap kondisi rekan kerja saya, tapi bos berkata, apa untungnya buat kamu? jika kamu peduli dengan teman kamu? Waduh ko jadi begini ya pertanyaanya dalam benak hati saya yang paling dalam. Saya bergegas menjawab bahwa saya peduli dengan rekan kerja saya karena kami teman, satu wadah dalam SPSI (serikat pekerja seluruh indonesia). Sebagi sesama pekerja setidaknya menjadi wajar jika kita membela kepentingan bersama. Apalagi berpengaruh langsung dengan masa depan pekerjaan.

Lalu bagaimana jadinya jika seorang bos tidak memiliki rasa solidaritas dengan bawahannya? Apakah beliau hanya akan menekan bawahannya dengan alasan untuk mempercepat pekerjaan. Apakah mungkin ini hanya terjadi ditempat saya bekerja atau ditempat lain juga demikian? Dari kata solidaritas saja menimbulkan banyak pertanyaan yang membuat perbedaan antara bos yang mewakili perusahaan dan buruh yang mewakili rekan-rekan kerjanya.

Apakah itu hanya pemikiran dari pribadi masing-masing sebagai manusia yang memiliki peran yang berbeda di lingkungan perusahaan. Mungkin teman-teman bisa membantu memberikan masukan saran atau kritik. Agar solidaritas tetap terjaga dilingkungan perusahaan tanpa harus terjadi perdebatan antara bos dan bawahan. Kami tunggu respon temen-temen, langsung komentar saja di bawah ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk kita semua.

Kepada siapa kita mengadu?

Suara rakyat kadang sangat didengar oleh para pejabat di pemerintahan tapi kadang juga diabaikan begitu saja bagaikan debu dijalanan. Ini pengalaman pribadi saya sendiri tatkala mendengar banyak keluhan dari masyarakat kebumen pada khususnya dan mungkin juga dialami oleh rakyat di indonesia. Yang mudah saja kemarin kita telah usai melaksanakan pemilihan presiden yang ke 7 secara langsung. Suara kita seolah-olah tak boleh ada yang golput meskipun hanya 1 orang dalam 1 komunitas desa.

Kita bak raja yang didata didatangi oleh para pengurus kpu, disambangi oleh para tim sukses untuk mengajak kita memilih pada salah satu pasangan presiden. Tak henti-hentinya juga kita diingatkan oleh para tokoh adat, tokoh kampung serta media masa dan elektronik untuk tidak golput. Lalu ada satu pertanyaan saya yang mengganjal di hati, seberapa penting suara kita untuk kepentingan dan kemajuan bangsa? Dan sekarrang pilpres telah usai, tinggal menunggu pelantikan sang presiden pilihan rakyat.

Lupakan sejenak mengenai pilpres dan pelantikan presiden, kita kembali lagi ke kehidupan saya pribadi. Sekarang lagi heboh mengenai timnas u19 yang gagal melaju ke babak selanjutnya di AFC U-19. Akan tetapi tidak mau kalah juga, kebumen memiliki berita yang kurang enak juga karena menurut para supporter pendukung PERSAK KEBUMEN (read : tim sepak bola kebanggaan kota kebumen) PSSI kebumen tidak sehat. Kenapa tidak sehat, menurut nara sumber yang saya korek-korek infonya menyatakan pengurusnya tidak aktif katakanlah mati suri.

Meskipun beberapa bulan yang lalu, persak pernah menyempatkan diri bermain di liga nusantara. Namun tidak berbuah manis sama halnya dengan timnas U_19, kalau seperti ini hasilnya siapa yang patut disalahkan ? pemain pelatih atau pengurus PSSI sendiri. Namun apakah dengan saling menyalahkan akan menyelesaikan masalah dan mendapatakan solusi yang terbaik? Ini bukan saja sepak bola kebumen akan tetapi sepak bola nasional yang perlu diperhatikan secara khusus seperti pilpres.

Karena sepakbola adalah olahraga rakyat yang paling murah, dengan adanya 1 team menang ataupun juara, 250 juta penduduk indonesia ikut menjadi juara. Pesan buat bapak presiden terpilih, semoga sepak bola Indonesai lebih diperhatikan lagi. Didik dan binalah mulai dari kampung, buatlah liga yang bisa dirasakan oleh pemain-pemain amatir kita. Karena dari sanalah atlit sepak bola indonesia lahir.

lmsport