Pendidikan Anak dalam Pandangan Feminisme

Feminisme –  dalam lintasan sejarah yang berkembang di masyarakat, perempuan selalu ditempatkan dalam posisi minoritas.

Pendidikan Anak dalam Pandangan Feminisme

Mayoritas masyarakat  masih memandang kaum perempuan sebagai makhluk Tuhan kelas dua di hadapan laki-laki. Akibatnya bukan saja tersubordinasi tetapi juga terpinggirkan  dalam proses kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Inilah yang kemudian menjadi salah satu lahirnya gerakan Feminisme. Mereka menginginkan kesetaraan perempuan dengan laki-laki dalam berbagai hal. Artinya, kita tidak pandang jenis kelamin untuk permasalahan tertentu, tetapi lebih ke kualitas.

Salah satu aspek penting dalam pembentukan struktur masyarakat adalah  pembagian peran berdasarkan jenis kelamin atau apa yang dikenal dengan gender. Misalnya di lingkungan keluarga, ayah bertugas mencari nafkah untuk anak dan istrinya, sedangkan ibu membersihkan rumah serta  mengurus keperluan anak dan suami.

Jika kita amati di zaman modern ini, bisa dikatakan bahwa perempuan mempunyai posisi atau peran penting dalam berbagai aspek. Contohnya, Presiden ke-5 Republik Indonesia yang dipimpin oleh perempuan, yaitu Megawati Soekarno Putri.

Dalam bidang agama, banyak bermunculan uztadah-uztadah. Dalam bidang ekonomi, banyak perempuan yang memimpin perusahaan, salah satunya Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan.

Ini artinya, dapat dikatakan bahwa apa yang dicita-citakan oleh Feminisme sudah tercapai. Lantas, apa yang dinginkan oleh sekelompok Feminisme sekarang ini?

Sebuah pernyataan mengejutkan oleh salah satu perempuan yang aktif dalam wacana tentang gender juga sebagai direktur Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dia adalah Siti Syamsiatun, Ph. D. Dalam salah satu kuliah yang disampaikannya, dia mengatakan bahwa pentingnya peran ayah dalam mendidik anak di keluarga. Bahkan, persentase antara ibu dan ayah dalam mengurus anak, posisi ayah lebih tinggi.

Ayah tidak hanya sekedar mencari nafkah, tetapi ayahlah yang paling bertanggungjawab dalam mengurus anak, khususnya karakter. Lebih lanjut, dia menyoroti para pendidik di Taman Kanak-kanak (TK) yang sebagian besar perempuan.

Dia menegaskan bahwa pendidik di usia dini seperti TK seharusnya diprioritaskan laki-laki. Ini tidak lain karena laki-lakilah yang mempunyai tanggungjawab paling besar dalam membentuk pola atau karakter anak.

Terkait pandangannya di atas, tentu banyak menimbulkan reaksi, baik pro maupun kontra. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah perbedaan gender (seperti contoh di atas), sebenarnya tidak menjadi persoalan selama tidak menimbulkan ketidakadilan atau penindasan antara satu pihak dengan lainnya.

Gender sebagai dasar pembagian tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang ditetapkan secara sosial dan kultural, bukanlah kodrat Tuhan,  sebagaimana dipahami banyak orang, melainkan suatu pembedaan yang dihasilkan dan  disosialisasikan melalui sejarah yang panjang.

Oleh:

pandangan feminismeSidik Fauji

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Alamat Asal:

Desa Puliharjo RT/RW 04/02, Kec. Puring, Kab. Kebumen

 

Published by

admin

Perkenalkan Admin Lukulo Media. Nama : Rodin Saputra, kelahiran kota Kebumen yang sedang belajar meniti karir di dunia internet khususnya blog. Lulusan SMK Kejuruan Teknik Pemesinan dari Gombong tahun 2007 ingin beralih profesi menjadi penulis blog. Bertolak belakang memang dengan cita-cita awal sekolah, namun kini menulis menjadi hoby baru untuk admin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *