Solidaritas?

Solidaritas, sedikit tercengang saat bos saya tidak tahu pentingnya solidaritas antar sessama pekerja. Yang dihitung bos saya hanya untung dan rugi, seolah apapun yang kita perbuat harus ada dampak untungnya jangan sampai rugi. Lalu apa yang akan kita lakukan jika kita dituntut kebersamaan nya demi kepentingan bersama yang mengatasnamakan orang lain. Apakah solidaritas harus ditinggalkan karena tidak ada untungnya yang langsung terjadi pada pribadi kita.

Saya peduli terhadap kondisi rekan kerja saya, tapi bos berkata, apa untungnya buat kamu? jika kamu peduli dengan teman kamu? Waduh ko jadi begini ya pertanyaanya dalam benak hati saya yang paling dalam. Saya bergegas menjawab bahwa saya peduli dengan rekan kerja saya karena kami teman, satu wadah dalam SPSI (serikat pekerja seluruh indonesia). Sebagi sesama pekerja setidaknya menjadi wajar jika kita membela kepentingan bersama. Apalagi berpengaruh langsung dengan masa depan pekerjaan.

Lalu bagaimana jadinya jika seorang bos tidak memiliki rasa solidaritas dengan bawahannya? Apakah beliau hanya akan menekan bawahannya dengan alasan untuk mempercepat pekerjaan. Apakah mungkin ini hanya terjadi ditempat saya bekerja atau ditempat lain juga demikian? Dari kata solidaritas saja menimbulkan banyak pertanyaan yang membuat perbedaan antara bos yang mewakili perusahaan dan buruh yang mewakili rekan-rekan kerjanya.

Apakah itu hanya pemikiran dari pribadi masing-masing sebagai manusia yang memiliki peran yang berbeda di lingkungan perusahaan. Mungkin teman-teman bisa membantu memberikan masukan saran atau kritik. Agar solidaritas tetap terjaga dilingkungan perusahaan tanpa harus terjadi perdebatan antara bos dan bawahan. Kami tunggu respon temen-temen, langsung komentar saja di bawah ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk kita semua.

Kepada siapa kita mengadu?

Suara rakyat kadang sangat didengar oleh para pejabat di pemerintahan tapi kadang juga diabaikan begitu saja bagaikan debu dijalanan. Ini pengalaman pribadi saya sendiri tatkala mendengar banyak keluhan dari masyarakat kebumen pada khususnya dan mungkin juga dialami oleh rakyat di indonesia. Yang mudah saja kemarin kita telah usai melaksanakan pemilihan presiden yang ke 7 secara langsung. Suara kita seolah-olah tak boleh ada yang golput meskipun hanya 1 orang dalam 1 komunitas desa.

Kita bak raja yang didata didatangi oleh para pengurus kpu, disambangi oleh para tim sukses untuk mengajak kita memilih pada salah satu pasangan presiden. Tak henti-hentinya juga kita diingatkan oleh para tokoh adat, tokoh kampung serta media masa dan elektronik untuk tidak golput. Lalu ada satu pertanyaan saya yang mengganjal di hati, seberapa penting suara kita untuk kepentingan dan kemajuan bangsa? Dan sekarrang pilpres telah usai, tinggal menunggu pelantikan sang presiden pilihan rakyat.

Lupakan sejenak mengenai pilpres dan pelantikan presiden, kita kembali lagi ke kehidupan saya pribadi. Sekarang lagi heboh mengenai timnas u19 yang gagal melaju ke babak selanjutnya di AFC U-19. Akan tetapi tidak mau kalah juga, kebumen memiliki berita yang kurang enak juga karena menurut para supporter pendukung PERSAK KEBUMEN (read : tim sepak bola kebanggaan kota kebumen) PSSI kebumen tidak sehat. Kenapa tidak sehat, menurut nara sumber yang saya korek-korek infonya menyatakan pengurusnya tidak aktif katakanlah mati suri.

Meskipun beberapa bulan yang lalu, persak pernah menyempatkan diri bermain di liga nusantara. Namun tidak berbuah manis sama halnya dengan timnas U_19, kalau seperti ini hasilnya siapa yang patut disalahkan ? pemain pelatih atau pengurus PSSI sendiri. Namun apakah dengan saling menyalahkan akan menyelesaikan masalah dan mendapatakan solusi yang terbaik? Ini bukan saja sepak bola kebumen akan tetapi sepak bola nasional yang perlu diperhatikan secara khusus seperti pilpres.

Karena sepakbola adalah olahraga rakyat yang paling murah, dengan adanya 1 team menang ataupun juara, 250 juta penduduk indonesia ikut menjadi juara. Pesan buat bapak presiden terpilih, semoga sepak bola Indonesai lebih diperhatikan lagi. Didik dan binalah mulai dari kampung, buatlah liga yang bisa dirasakan oleh pemain-pemain amatir kita. Karena dari sanalah atlit sepak bola indonesia lahir.

lmsport